Jakarta, 15
Agustus 2026,
Pada tanggal 15
Agustus 2026, Kementerian Pariwisata melaksanakan Rapat Koordinasi Pemantauan
Dampak Gempa terhadap Sektor Pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui
Zoom Meeting. Rapat dipimpin oleh Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan
Infrastruktur, Bapak Reza Fahlevi, dan diikuti oleh Staf Ahli Bidang Manajemen
Krisis, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata
Wilayah II, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Provinsi NTT, serta perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota di Provinsi NTT.
Rapat ini
dilaksanakan untuk memantau kondisi terkini serta dampak gempa terhadap sektor
pariwisata di wilayah NTT. Kementerian Pariwisata mendorong Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah untuk berkolaborasi dalam pengumpulan dan pembaruan data,
khususnya terkait kondisi destinasi wisata, akomodasi, aksesibilitas, serta
pergerakan wisatawan sebagai bahan laporan kepada Menteri dan Presiden.
Dalam rapat
tersebut, Kementerian Pariwisata menyampaikan agar Pemerintah Daerah dapat
melakukan pemetaan penyebaran wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan
nusantara (wisnus). Pemetaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi dan
kebutuhan wisatawan serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Berdasarkan
laporan dari beberapa Kabupaten/Kota, Kabupaten Manggarai Timur masih mengalami
kendala listrik dan jaringan komunikasi. Namun, belum terdapat informasi
mengenai kerusakan akses maupun penginapan. Sementara itu, sebagian besar
listrik dan jaringan di Kabupaten Manggarai Barat telah kembali normal.
Pemerintah Daerah tetap mengantisipasi kemungkinan gempa susulan meskipun
peringatan tsunami telah dicabut.
Di Kabupaten
Manggarai Barat, DTW Goa Rangko ditutup sementara setelah dilakukan pengecekan
secara berulang, sedangkan DTW Batu Cermin dan Puncak Waringin tetap dibuka.
Sebagian besar hotel tidak mengalami kerusakan, kecuali Hotel Jayakarta yang telah
memindahkan tamunya ke hotel lain. Pelaksanaan event juga dihentikan sementara.
Berdasarkan informasi KSOP, pelayaran dan Taman Nasional Komodo tetap dibuka
dengan 251 kapal yang berlayar, termasuk 109 kapal Live on Board (LoB).
Kabupaten
Lembata, Alor, Sumba Timur, dan Sumba Barat dilaporkan tidak terlalu terdampak.
Sementara itu, Kabupaten Manggarai, Ngada, Ende, Nagekeo, dan Sikka masih
mengalami kendala jaringan komunikasi. Sejumlah akses jalan, seperti rute
Ruteng–Borong dan Ende–Bajawa, juga mengalami longsor.
Sebagai tindak
lanjut, Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan
Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II bersama BPOLBF dan Pemerintah Daerah akan
membentuk grup koordinasi melalui WhatsApp untuk memperbarui data pergerakan
wisatawan di NTT dan dampak gempa terhadap sektor pariwisata. Kementerian
Pariwisata juga akan berkolaborasi dengan BNPB dan BPBD dalam pembaruan data
serta upaya untuk meminimalisir dampak gempa terhadap sektor pariwisata di NTT.